Kupandangi
kipas angin yang menempel pada langit-langit kamarku. yang setia menemani
sekaligus menunaikan tugas-tugasnya sebagai pemberi kesejukan dikala kegerahan
itu menghantui, namun pernah juga memberikan wabah "Wedus Gembel"
yang menerjang isi perutku. seakan perkakas yang kumiliki memusuhi,
memberontak, menerjang terjang, dan acap kali berhamburan layaknya pendemo yang
tanpa melihat waktu siang dan malam.
Ku
ceritakan kesedihanku kepada kipas sang
pekerja langit-langit kamar dimalam itu. yang berputar dengan sigapnya tanpa
memperhitungkan sang waktu, tanpa lelah selagi peraturan ituberjalan pada
tempatnya. agar kipas itu mengajariku bagaimana berputar tanpa sedikitpun
mengeluh.
Lalu
kudengar dia berbisik dengan sentuhan halus mengalir ketelingaku.
"Jika
diujung perjalanan hidup adalah setelah cita-cita tercapai" "maka aku
sudah tiba diujung perjalanan itu" "sebab aku sudah menunaikannya.
Tetapi
aku tidak tau apakah berputar ditempat sesuai dengan keinginan kanda Raja untuk
memberikan kesejukan dikala kegerahan menghantui kanda, sepertiku?
Dulu
aku sering bertanya-tanya, sewaktu sang pencipta merakitku menjadi yang
sekarang ini. Apakah berputar pada poros yang lebih kecil dari beban yang aku
emban, merupakan keinginanku, impianku? Tetapi aku sudah diciptakan sedemikian
rupa. Dan sekarang aku milikmu baginda raja.
Matikanlah
aku jikalau engkau tak suka.
Hetikanlah
langkahku untuk mengabdi padamu jika engkau tak suka.
Maafkanlah
aku jikalau aku menyusahkanmu, bila senjataku melukaimu.
Tetapi
pakailah aku jika engkau membutuhkanku, aku sangat menantikan tangan baikmu itu
sebagaimana tugas ku untuk menyejukkanmu.
Catatan Harian | Rafi’s Better
Selasa
22 Jan’13 | 01:00